Inspirasi

Kenapa Gaji Naik Tapi Hidup Makin Sulit

Saya pernah bekerja sebagai karyawan di salah satu anak perusahaan Pertamina di Jakarta, cukup lama juga, 15 tahun. Jadi, saya bisa merasakan jika ada rekan-rekan atau peserta seminar yang mengeluh walaupun gaji naik tapi hidup terasa lebih sulit.

Hanya terkadang saya sering melihat bahwa masalah utamanya adalah pada mind-set. Kekurang rasa bersyukur. Sederhananya begini, coba sekarang perhatikan sekeliling Anda, perhatikan dengan teliti. Apa saja yang sudah Anda miliki saat ini (dari mulai yang material seperti kendaraan, hp, tv, dsb sampai yang non material seperti pendidikan anak, liburan, dsb). Cobalah dihitung satu persatu. Jangan ada yang terlewat!

Jumlahkan seluruhnya, lalu bandingkan dengan penghasilan atau gaji Anda saat ini. Maka Anda akan sangat bersyukur, karena saya yakin apa sudah Anda peroleh atau miliki, kalau dihitung secara matematika rasanya tidak mungkin diperoleh dengan gaji atau pendapatan Anda sekarang. Artinya, apa yang sudah Anda peroleh saat ini jauh melampau pendapatan Anda. Kaget dan takjub kan!

Itulah keajaiban rejeki, hanya sayangnya banyak orang sering tidak menyadarinya. Padahal kalau Anda terus menjaga kesadaran akan hal ini, saya yakin Anda akan selalu bersyukur. Dan bagi mereka yang selalu bersyukur maka secara otomatis kelimpahan rejeki akan terus mengalir dan bertambah besar…

Seperti saya sampaikan di atas, saya pernah hidup sebagai seorang karyawan. Jadi sering melihat, bahkan mengalami sendiri situasi seperti ini:

Ketika masih sebagai staff atau karyawan biasa, sering mengeluh karena gaji tidak cukup. Begitu dapat jabatan misalnya naik jadi supervisor, otomatis gaji atau pendapatan pun naik, rasanya senang. Tapi rasa senang itu biasanya hanya dalam hitungan waktu 2-3 bulan saja. Setelah itu keluhannya tetap sama, gaji atau pendapatan tidak cukup. Begitupun kalau kemudian jabatannya naik lagi misalnya jadi Manager, gajinya pun otomatis naik, senang lagi. Tapi kembali, kesenangan itu hanya berlangsung singkat, dan berikutnya adalah mengeluh hal yang sama. Terus seperti itu, bahkan sampai ke jenjang yang paling tinggi…

Dua Hal Yang Menyebabkan Gaji Naik Tapi Hidup Makin Sulit

Gaji Naik
Sumber Gambar Canva.com

Pertama, gaya hidup. Seorang teman telah bekerja disebuah perusahaan selama 2 tahun dengan gaji Rp 5 juta/bulan. Ini membuktikan teman tersebut bisa survive dengan gajinya selama 2 tahun. Tahun ke-3 ia dapat promosi dan gaji naik menjadi Rp 8.5 juta/bulan, ada selisih Rp 3.5 juta/bulan. Jika selama 2 tahun dia bisa survive dengan pendapatan Rp 5 juta/bulan, seharusnya bisa ia pertahankan, kalaupun ada kenaikan, cukup 10% – 20% saja atau menjadi Rp 5.5 juta – Rp 6 juta rupiah saja. Selisih yang ia peroleh dimasukan ke dalam investasi seperti EMAS, yang akan ia nikmati beberapa tahun ke depan.

Yang terjadi adalah gaya hidupnya yang berubah, bahkan berubahnya bisa melampaui selisih yang ia peroleh. Pada ahirnya keluhan yang sama terjadi, gaji kurang…

Baca juga:
Menabung EMAS Tidak Harus Banyak Uang

Kedua, masalah inflasi. Kalau di atas kita bicara kenaikan gaji karena promosi atau naik jabatan, dimana kenaikannya nilai gaji biasanya signifikan. Sekarang kita bicara kenaikan gaji berkala, nah ini memang masalah juga. Karena seringkali kenaikan berkala ini tidak sebanding dengan inflasi yang terjadi.

Cara menghitung kenaikan gaji berkala apakah cukup untuk melawan inflasi atau tidak, paling gampang ya pakai EMAS. Saya beri contoh pengalaman sendiri:

Tahun 1991 ketika pertama kali diterima bekerja di sebuah perusahaan di bilangan Kuningan – Jakarta. Gaji pertama saya Rp 1.000.000 juta rupiah perbulan. Layak dan cukup besar saat itu bagi saya, bisa kos di kawasan Setiabudi dengan kamar kos yang nyaman, bisa pulang ke Bandung 2 minggu sekali, memberi ke orang tua, hiburan dan punya sisa untuk menabung. Pokoknya pendapatan sebesar itu cukup nyaman bagi hidup saya di Jakarta saat itu.

Sekarang mari kita ukur pendapatan tersebut dengan EMAS. Harga EMAS batangan 24K tahun 1991 (lihat artikel: Harga EMAS Per-Tahun Sejak Tahun 1988) adalah Rp 22,700 per gram. Jadi, kalau gaji saya saat itu di konversi ke EMAS, maka saya akan memperoleh EMAS sebanyak:

Rp 1.000.000 juta / Rp 22,700 = 44 gram

Kalau hari ini saya ingin hidup nyaman di Jakarta seperti tahun 1991, maka gaji yang harus saya peroleh saat ini adalah sebesar 44 gram x harga EMAS saat ini (tahun 2020) misalnya Rp 900 ribu/gram yakni Rp 39 juta rupiah. Saya yakin Anda setuju dengan saya, bahwa nilai gaji Rp 39 juta/bulan sangat cukup atau ideal untuk hidup di Jakarta saat ini 😊.

Coba anda hitung gaji pertama Anda saat bekerja dengan harga EMAS saat itu, lalu hitung juga berapa banyak EMAS bisa diperoleh dengan gaji Anda saat ini. Berapa selisihnya? Ya, itulah inflasi. Itu juga yang menyebabkan kenapa gaji naik tapi hidup berasa makin sulit, karena kenaikan gaji tidak sebanding dengan inflasinya.

Ingat! rumus menghitung gaji di atas jangan pernah digunakan untuk menuntut kenaikan gaji kepada bos Anda. Jika Anda tetap lakukan, segala akibat atas pengajuan kenaikan gaji Anda termasuk dipecat bukan tanggung jawab saya sebagai penulis ha ha ha…

Baca juga:
Dana Pensiun Dalam Bentuk EMAS, Siapapun Bisa Punya

Tunda Kesenangan Anda

Menabung untuk masa depan yang benar itu bukan dari sisa gaji. Potong dulu gaji Anda 10% – 20% untuk membeli EMAS, baru sisanya untuk belanja kebutuhan hidup. Cukup tidak cukup harus cukup dan pasti cukup. Jangan di balik! Kalau di balik, 100% Anda tidak akan pernah bisa menabung.

Pakai cara menabung EMAS menggunakan konsep ini: Tabungan EMAS atau Pool Account, Kenapa Lebih Baik.

Orang sukses adalah mereka yang mau menunda kesenangan. Tunda dulu kesenangan Anda untuk investasi, kesenangan jangan di biayai dari gaji. Kesenangan harus dibiayai oleh passive income, salah satunya passive income dari hasil investasi.

Silahkan bagikan artikel ini kepada teman atau saudara Anda melalui tombol di bawah ini.

Author

Affiliate Marketer, Pencinta EMAS, Hidup Tanpa Sosmed, Hobi Traveling. Founder dari KebunEMAS.

Leave a Reply