Inspirasi

Kisah Perjalanan Anak Desa Miskin Ke Amerika

“Pak, aku dapat belajar dengan cepat,” kataku padanya. Ia memberiku pekerjaan paruh waktuku yang pertama. Aku mecuci mobil di jalanan untuk lima atau enam dolar, mengepel lantai, dan menggali lubang.

Bayarannya tidak besar, tetapi membuatku bisa hidup lebih baik daripada kehidupan sebagai anak yang penyakitan di sebuah desa miskin di Haiti. Setidaknya aku tidak lagi bergumul dengan kelaparan, kemiskinan, dan penyakit. Yang lebih penting, aku tidak lagi tidur di lantai tanah bersama tikus dan kecoa yang melewatiku tengah malam dan kadang-kadang menggigit telapak kakiku.

Aku terus belajar bahasa Inggris. Setiap hari aku menuliskan tiga kata di tanganku dan berkomitmen untuk menghafalnya. Dan sementara itu, aku mendengar tentang Impian Orang Amerika (American Dream). Impian itu dibicarakan di televisi, koran, obrolan sehari-hari.

Sepertinya dua puluh tiga tahun yang lalu, lebih banyak orang yang percaya pada impian. Sekarang ini, impian nyaris tidak pernah disebut. Selama tahun-tahun perjuanganku di negeri ini, aku tidak pernah ragu bahwa Impain Orang Amerika itu sungguh hidup. Ada banyak bukti menunjukan bahwa seseorang bisa hidup berkelimpahan di negeri ini.

Aku mempunyai beberapa ide tentang apa yang diperlukan untuk sukses di Amerika. Berjalan jauh, luwes, tekun, dan bekerja keras berada di puncak daftarku. Tetapi jalan menuju sukses memerlukan lebih banyak dari itu. Diperlukan pengetahuan khusus. Ketekunan tanpa kombinasi kepintaran jalanan dan buku hanyalah delusi.

Pekerjaanku menghabiskan waktuku. Lama sekali sebelum aku mampu mengambil buku dan memahami apa isinya. Jadi, apa yang telah aku lakukan untuk berangkat dari tempat aku berada sebelumnya ke tempat aku berada saat ini? Jwabannya adalah banyak persiapan. Abraham Lincoln berkata, “Aku akan belajar dan mempersiapkan diri. Suatu hari, peluangku akan datang.”

Urutan pertama dari persiapanku adalah belajar bahasa Inggris. Aku membeli sebuah kamus kecil dan dua buku anak-anak sehingga aku bisa melihat gambar dan kata-katanya sekaligus. Setiap hari, aku terus menulis tiga kata di tanganku. Di akhir minggu, aku mengkaji kembali kata-kata baruku.

Setelah mengenal cukup banyak kata, aku perlu belajar mengucapkan sehingga orang lain dapat mengerti percakapanku. Harus mengulang-ulang adalah sesuatu yang sangat memalukan. Tuhan berkati siapa pun yang telah menciptakan serangkaian kata-kata sulit (tongue twister). Aku membeli sebuah buku dan memutar lidahku sampai terasa sakit. Seandainya anda belum tahu, lidah adalah otot pemalas di tubuh kita. Seperti kabanyak orang, lidah memilih tinggal di posisi yang nyaman.

Dalam kasusku, aku telah berbicara bahasa Creole selama dua puluh tahun. Itulah posisi yang dikenal oleh lidahku dan terasa nyaman olehnya. Memaksanya berbahasa Inggris sungguh merupakan penyiksaan. Benakku berbicara bahasa Inggris, tetapi lidahku berbicara Creole. Itu membuatku berbicara dalam aksen yang sulit di mengerti. Itu juga sebabnya mengapa kebanyakan aksen bicara para imigram baru terdengar sangat berbeda. Untungnya, aku bekerja siang-malam untuk melatih lidahku.

Setelah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sebagai imigran bokek di Miami, Florida, aku pindah ke Atlanta, Gerogia. Di sana aku medapatkan pekerjaan sebagai penjaga pintu di sebuah hotel mewah: Waverly Renaissance Hotel.

Sampai batas tertentu, pekerjaan sebagai penjaga pintu adalah pintu masukku ke hidup berkelimpahan. Bukan karena gajinya besar, tetapi karena pendidikan yang disediakannya bagiku. Di dalam hidup, yang penting bukanlah apa yang kita miliki dan posisi apa yang kita duduki, tetapi menjadi orang seperti apa kita mewujud. Yang lebih penting adalah keberanian untuk “berjalan satu mil lebih jauh” dan melakukan apa yang orang lain tidak bersedia melakukannya.

Ketika memakirkan mobil-mobil di hotel, menemukan buku-buku seperti apa yang dibaca oleh orang-orang yang tampaknya sudah menghidupi Impai Orang Amerika. Aku membiasakan diri untuk mencermati kursi belakang untuk mencari buku-buku atau kaset-kaset pengembangan diri. Lalu aku membeli semua yang kulihat itu.

Aku menghabiskan setiap buku dfan mendengarkan setiap kaset, berulang-ulang. Dalam waktu singkat, otakku sudah dipenuhi dengan “pesan-pesan” kamu-bisa-melakukannya. Aku merasa tidak terhentikan. Aku menulis tujuan-tujuanku serta rencana-rencana untuk mencapainya. Salah satu tujuanku adalah berpidato di atas panggung di seluruh dunia. Meskipun beberapa orang secara langsung atau tidak langsung mengatakan bahwa aku tidak bisa mencapai tujuan itu, aku berani percaua bahwa aku sanggup.

Penyeliaku berkata padaku bahwa tidak ada orang yang akan pernah membayarku untuk bicara. Ia mengemukakan beberapa alasan, termasuk kenyataan bahwa aku adalah orang asing dan bahsa Inggrisku sangat buruk. Dan, tentu saja, ada teman-teman dan anggota keluarga yang bertanya-tanya karier apa yang kupilih ketika aku bicara di panggung.

“Selamat datang, Pak, saya Rene Godefroy… penjaga pintu Anda. Impian saya adalah menjadi pembicara persis seperti Anda.” Aku mengucapkan kata-kata itu kepada Dan Burrus, Jeffrey Gitomer, dan beberapa pembicara lainnya yang ku jumpai di pintu hotel. Dan dan Jeffrey adlaah nama-nama besar di industri ini. Aku terkejut bahwa keduanya meluangkan waktu untuk memberiku nasihat. Sungguh menyegarkan melihat bahwa masih ada orang-orang di luar sana yang mau membangun dan mengilhami harapan bagi orang lain.

1 2 3
Author

Leave a Reply