Tentang EMAS

Komoditas EMAS Dalam Sistem Moneter

Komoditas EMAS selama beberapa tahun terakhir menanjak begitu cepat karena pasar EMAS sesunguhnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan pasar keuangan dunia. Seluruh EMAS yang ada di dunia ini konon hanya bernilai sekitar US$3,4 triliun saja–bandingkan dengan nilai saham dan obligasi yang di perdagangkan di seluruh dunia hingga mencapai miliaran dolar. Oleh karena itu, biar pun EMAS hanya diperdagangkan di kisaran US$1.000 saat ini, bukan tidak mungkin EMAS bisa menembus $10.000 per troy ons dalam beberapa waktu ke depan.

Kata orang, EMAS merupakan mata uang buatan Tuhan. Sejak ratusan—bahkan ribuan—tahun yang lalu, EMAS telah menjadi bentuk yang paling murni dari uang sebagai alat tukar perdagangan dan nilainya tidak terikat terhadap salah satu pihak tertentu. Bangsa mesir telah menambang EMAS sejak tahun 2000 SM. Tahun 1932 SM, mereka memakamkan Raja Tutankhamen dalam peti EMAS seberat hampir 2.500 pounds. Abad ke-6 SM, Raja Croesus di Lydia (kini merupakan wilayah Turki) memerintahkan pembuatan Koin EMAS pertama. Tahun 50 SM, bangsa Romawi juga membuat koin emas.

Saat ini, EMAS dipandang sebagai pelarian terhadap resiko-resiko investasi lain—termasuk risiko yang melekat dalam memegang mata uang [fiat] itu sendiri. Ketika situasi perekonomian dipandang kurang kondusif dan instrumen yang ada dirasa tak memberikan hasil yang memadai, investor akan terpacu untuk memindahkan dananya ke komoditas seperti logam mulia.

Sebelumnya, komoditas EMAS memang memegang peranan penting dalam perdagangan dunia sebagaimana tertuang dalam perjanjian Bretton Woods. Namun, sejak tahun 1971 perjanjian tersebut dianggap gagal dan mengalami kolaps. Dolar Amerika kemudian menjadi pengganti secara de facto merupakan fundamental dari sistem moneter global. Dolar Amerika menjadi mata uang primer di seluruh pelosok dunia sejak itu segala sesuatu yang memiliki nilai selalu diukur dan dibandingkan dengan dolar—bukan lagi dengan EMAS.

Hal ini tentu saja membuat siapa pun yang menggunakan dolar terpaksa ikut terkena dampak dari setiap manuver dolar—termasuk menanggung utang dan defisit bangsa Amerika. Sebelum Perang Vietnam, Amerika memang memiliki posisi keuangan yang kokoh dan memegang lebih dari separo cadangan devisa dunia waktu itu. Namun saat ini, situasi sudah berubah jauh. Bangsa Amerika sangat menggantungkan tabungan dari negara-negara lain untuk membiayai utang dan defisit keuangan mereka.

Saat ini, lebih dari 60% sirkulasi dolar berada di luar Amerika dan sebagian besar obligasi pemerintahan (treasury bond) dimiliki oleh asing—khususnya China dan Jepang. Praktis, Amerika kini sangat bergantung pada kepercayaan yang diberikan bangsa lain kepadanya. Apabila kepercayaan tersebut jatuh, bisa jadi tak ada lagi yang mau membiayai defisit keuangan Amerika sebesar $650 miliar.

Andaikan skenario tersebut terjadi, konsekuensinya suku bunga dan inflasi bisa naik tajam, diikuti dengan kejatuhan pasar keuangan Amerika, meningkatnya pengangguran, dan terjadilah resesi yang berkepanjangan. Bila sudah demikian, Federal Reserve tak bisa berbuat banyak karena pemotongan suku bunga pada akhirnya akan membuat pelemahan dolar makin tajam. Pemotongan suku bunga membuat dolar yang beredar makin banyak nilainya makin anjlok, dan memaksa bank-bank sentral untuk menyerap cadangan dolar lebih banyak lagi agar kurs yang terbentuk tetap terjaga.

Walaupun negara-negara berkembang seperti China atau India mulai menjadi pemain global yang berpengaruh, dunia ini masih sangat bergantung pada konsumsi yang dilakukan oleh Amerika. Mereka menyerap hampir 20% aktivitas ekonomi di tahun 2006. Jumlah tersebut meningkat drastis di tahun-tahun sebelumnya (17% pada tahun 1990 dan 15% pada tahun 1980). Apabila dolar mengalami kejatuhan, perekonomian negara-negara lain akan terkena imbasnya karena akan sangat memengaruhi pertumbuhan ekspor mereka ke Amerika.

Bila sudah demikian, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi karena krisis melanda perekonomian global di seluruh dimensi. Harga-harga aset keuangan (paper asset) seperti saham atau obligasi akan rontok berjatuhan dan di sisi lain harga-harga logam mulia seperti EMAS dan perak akan mengalami kenaikan secara substansial. Sejarah membuktikan bahwa permintaan terhadap EMAS memang bertumbuh secara gradual: namun ketika terjadi krisis keuangan, harganya bisa meroket tajam.

Secara histori, kolerasi yang terjadi antara EMAS dan mata uang fiat selalu berkebalikan. EMAS akan naik pamornya ketika risiko dalam memegang aset keuangan berdenominasi mata uang tertentu naik. Ketika potensi imbalan (return) berinvestasi dalam saham atau obligasi tidak lagi menarik dan dianggap tidak mampu mengompensasi risiko yang ada, maka investor akan mengalihkan dananya ke dalam aset riil seperti logam mulia atau properti yang dianggap lebih layak dan aman (secure).

Tidak cuma itu, ada banyak alasan yang membuat harga EMAS akan terus melonjak. Alasan utama adalah kian terbatasnya pasokan EMAS di pasaran. Sejak tahun 2001, produksi EMAS tertekan karena EMAS menjadi kian sulit ditambang dan rata-rata biaya (cost) yang diperlukan makin meningkat. Bank sentral — yang biasanya melepas emas di pasaran—mulai mengurangi penjualan logam mulia mereka dalam dua-tiga tahun terakhir. Menurut laporan Gold Fields Mineral Service (GFMS) Gold Survey 2007, Jerman, yang merupakan pemegang EMAS terbesar kedua di dunia, menyatakan tak akan lagi menjual EMAS ke pasaran. Hal ini juga diikuti oleh Spanyol dan akan diikuti pula oleh sejumlah negara lainnya.

China dan Jepang yang merupakan pemilik cadangan devisa terbesardi dunia—lebih dari 2 triliun dolar — hanya memiliki cadangan berbentuk emas kurang dari 2%. Apabila mereka mulai berpaling dan memindahkan devisa mereka dalam bentuk EMAS, bukan tidak mungkin harga EMAS akan makin membumbung tinggi. Betapa pun, EMAS adalah komoditas ekonomis dan politis yang harganya akan menarik bagi setiap Bank Sentral di dunia.

Baca juga:
EMAS Adalah Uang, Tapi Uang Bukanlah EMAS

Kendati komoditas EMAS sangat terbatas pasokannya, bukan berarti peluang untuk berinvestasi EMAS menjadi terbatas. Saat ini, investasi EMAS reatif lebih mudah dilakukan daripada beberapa tahun yang lalu. EMAS juga hadir dalam berbagai bentuk dan varian yang sesuai dengan preferensi masing-masing investor. Tahun 2004 telah diperkenalkan exchange-traded fund (ETF) EMAS yang ditawarkan di Eropa dan Asia. Tahun 2007 lalu, rakyat China—yang merupakan bangsa penabung terbesar—mulai diperkenankan secara legal melakukan jual beli EMAS untuk pertama kalinya. Artinya, permintaan EMAS akan berpotensi terus bertumbuh kendati suplainya sangat terbatas sehingga berpeluang terus mendongkrak harga EMAS di masa mendatang.

Catatan:
Artikel ini di sadur dari buku “Investasi EMAS” tahun 2009 karya Nofie Iman, karena penulis merasa ada relevansinya dengan kondisi EMAS pada tahun 2020 ini.

Author

Affiliate Marketer, Pencinta EMAS, Hidup Tanpa Sosmed, Hobi Traveling. Founder dari KebunEMAS.

Leave a Reply